Desa Wisata Bahari, Harapan Baru Pulau-pulau Kecil di Indonesia

KOMPAS.com – Potensi wisata Indonesia bukan saja dari tempat-tempat yang sudah terbangun dan maju, juga pulau-pulau kecil yang tersebar di seluruh Nusantara. Pulau-pulau kecil di Indonesia menyimpan banyak potensi wisata yang bisa maju jika digarap secara serius. Hal ini diamini oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan ( KKP). Plt Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP, Aryo Hanggono mengungkapkan, salah satu bentuk program pengembangan yang dilakukan KKP adalah Desa Wisata Bahari (Dewi Bahari). Program baru ini disebut sebagai bentuk riil dalam pengembangan pulau-pulau kecil di Indonesia, terutama dari sektor ekonomi pesisir yang di dalamnya juga didukung wisata. Baca juga: Wisata Flores, 9 Pantai Tersembunyi di Pesisir Selatan Manggarai Timur Desa Wisata Bahari, menurut KKP, merupakan model pengembangan di dalam dan luar kawasan konservasi. Khusus di dalam kawasan, ada potensi wisata besar. Saat ini, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 56 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Taman Nasional dan Kawasan Konservasi Perairan Nasional (KKPN), KKP mengelola 10 kawasan, yaitu Taman Wisata Perairan Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau; Taman Wisata Perairan Pulau Pieh, Provinsi Sumatera Barat. Lalu Taman Wisata Perairan Kepulauan Kapoposang, Provinsi Sulawesi Selatan; Taman Wisata Perairan Gili Matra, Provinsi Nusa Tenggara Barat; Taman Wisata Perairan Laut Banda, Provinsi Maluku; Taman Wisata Perairan Kepulauan Padaido, Provinsi Papua. Kemudian, Taman Nasional Perairan Laut Sawu, Provinsi Nusa Tenggara Timur; Suaka Alam Perairan Kepulauan Waigeo Sebelah Barat, Provinsi Papua Barat; Suaka Alam Perairan Kepulauan Raja Ampat, Provinsi Papua Barat dan Suaka Alam Perairan Kepulauan Aru Bagian Tenggara, Provinsi Maluku. Baca juga: Anambas, Inilah Saingannya Raja Ampat Wisatawan menikmati pemandangan gugusan pulau karst dari Bukit Piaynemo, Desa Pam, Kecamatan Waigeo Barat Kepulauan, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Senin (31/11/2016). Wisatawan menikmati pemandangan gugusan pulau karst dari Bukit Piaynemo, Desa Pam, Kecamatan Waigeo Barat Kepulauan, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Senin (31/11/2016).(KOMPAS.com / Wahyu Adityo Prodjo) Dari 10 kawasan tersebut, dalam kaitannya dengan Desa Wisata Bahari, KKP tak sekadar memberikan bantuan seperti kapal transportasi atau bersih-bersih pantai, juga penataan ulang desa. Penataan ulang dilakukan demi mendongkrak ekonomi wilayah pesisir. Pasalnya, menurut Aryo, potensi sektor tersebut, menurut data dari Kadin tahun 2015 sekitar Rp 670 triliun. “Nah, kenapa kita tidak mendorong (ekonomi pesisir) ini,” kata Aryo saat ditemui Kompas.com di KKP, Jakarta, Selasa (7/1/2019). Salah satu langkah dari Desa Wisata Bahari adalah penataan ulang kampung yang disebut Aryo sebagai bedah kampung. Baca juga: Penglipuran, Desa Wisata Bali dengan Sederet Penghargaan Menurutnya, bedah kampung tidak sekadar merombak desa, juga menambahkan ruang kuliner makanan lokal dan penambahan fasilitas wisata lainnya. Kemudian, perombakan kampung di wilayah pesisir ini juga meliputi pembenahan infrastruktur jalan, sehingga akses menuju tempat wisata di sana lebih mudah. Kemudian, air juga akan lebih dijernihkan, dan pembenahan pengelolaan sampah, sehingga masyarakat setempat dan wisatawan merasa nyaman. Meski beberapa kampung di wilayah pesisir akan mengalami perombakan melalui “bedah kampung”, Aryo memastikan tak menghilangkan tradisi dan keunikan daerah tersebut. Baca juga: 4 Desa Wisata Indonesia Mendunia, Yuk Simak Aktivitas Seru di Sana “(Sebab), kalau wilayah pesisir didiamkan, mereka tidak akan maju,” kata Aryo. Aryo menambahkan, setiap daerah program Desa Wisata Bahari perlu memiliki tambahan tempat atau atraksi wisata. Hal itu demi menarik perhatian berinvestasi di daerah tersebut. Salah satu atraksi buatan yang sudah diusulkan untuk segera dimulai proses pembuatannya adalah taman terumbu karang.
Penulis : Nabilla Ramadhian
Editor : Kahfi Dirga Cahya

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply